Halo,
Tuan. Kita bertemu lagi di 14februari. Tanggal yang cukup penting bagiku, namun
belum tentu penting bagimu. Ini sudah menjadi tradisi, sejak tiga tahun yang lalu.
Tradisi semacam apa? Ya, seperti ini, aku senang menulis tentangmu
berulang-ulang setiap tanggal 2 Januari. Sebagai pengingat bahwa dulu kita
pernah berkenalan dan sempat dekat.
Cin...
cino! Matamu yang sipit dan wajah orientalmu adalah potret yang tidak pernah
aku lupakan. Bukan menjadi sesal, tapi sangat disayangkan jika selama tiga
tahun ini, kita tak pernah begitu saling tahu, apalagi bertemu. Beberapa kali
aku sempat mampir di kotamu, menikmati udara yang berembus manis di sana,
berjalan-jalan ke daerah Malioboro— dekat dengan rumahmu.
Sungguh,
kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini. Dulu, dulu sekali,
beberapa tahun yang lalu, kedekatan kita adalah hal yang tak ingin aku
sia-siakan. Bisakah manusia kecil seperti aku melawan kehendak Tuhan? Aku tidak
sekuat itu. Perpisahan kita, yang terjadi tanpa dugaanku sebelumnya, tiba-tiba
saja hadir. Kita, yang dulu adalah kutub selatan juga utara, yang saling
tarik-menarik dan berdekatan, tak lagi punya alasan untuk berjalan sama-sama.
Tuan,
aku sungguh tak percaya, hubungan kita yang berjalan singkat ternyata masih
begitu melekat dalam ingatanku. Aku juga tak paham, mengapa sosokmu yang sempat
begitu akrab di otakku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi kukenal.
Memang tidak ada kata pisah. Tidak juga ada ajakan untuk menyatukan aku dan
kamu menjadi kita. Tapi, segalanya yang telah kulakukan bersamamu membawa
kejutan dan kenangan tersendiri bagiku, entah bagimu.
Bolehkah
aku bercerita tentang awal pertemuan kita? Mungkin, jika kamu menyempatkan diri
untuk membaca, kamu akan bosan mendengar ceritaku. Pertemuan kita diawali dari
sapaan terpendek di dunia, “Hai.” Cukup tiga huruf, dan itulah awal sederhana
yang mengubah hidupku dan hidupmu. Sapa yang kulayangkan dari chat facebook itu
berbuah balasan darimu. Sapaan iseng itu mengantarkan kita pada satu titik,
titik ternyaman saat kita saling berkenalan. Aku mengetahuimu. Kamu juga
mengetahuiku. Meskipun semua hanya maya, meskipun tak nyata, meskipun hanya
lewat tulisan; kamu berbeda dan aku suka.
Kamu
adalah veteran dari SMP Stella Duce dan juga veteran di SMA Kolese De Britto.
Aku tahu kamu tidak nakal, Tuan. Kamu gigih dan selalu berjuang untuk yang
ingin kauperjuangkan, tapi entah mengapa kautidak memperjuangkanku? Apa aku tak
layak untuk diperjuangkan? Sudahlah, lupakan! Semua sudah lewat dan pertemuan
kita harusnya bukan menjadi hal yang harus kusesali. Aku masih mengingat
tentangmu. Tentang dedikasimu untuk PSS Sleman, kamu membuat kaos sebagai wujud
kepedulianmu terhadap tim kesayanganmu. Kamulah yang berteriak lantang di depan
para supporter Macan Demangan ketika DBL dimulai.
Waktu
kita berkenalan, kamu masih SMA. Masih bersama kekasihmu yang dulu, yang
seringkali kauceritakan padaku. Kamu... pria yang selalu lupa makanan apa saja
yang masuk ke dalam mulutnya. Anak IPA berjiwa IPS. Pecinta Arsenal, penyuka
PSS Sleman, penggemar Macan Demangan. Pria yang tak pernah mengeluh sakit dan
selalu menggunakan infus untuk meredam nyeri. Keeper yang tak pernah sekalipun
penampilanmu ditonton oleh wanita yang kaucintai. Kocak. Humoris. Supel. Dan,
katanya, kamu seringkali membawa wanita berbeda ketika ada suatu acara di
sekolahmu. Ah, Tuan, mengenai ini hanya soal gosip saja, tapi aku percaya
kautidak seperti kata orang. Aku memercayaimu. Dan, apakah yang tidak kuketahui
mengenai kamu?
Tuan,
sudah tiga tahun, 2 Januari 2010 memang sudah terlewat. Aku juga sudah berubah,
kamu juga sudah pasti berubah. Kenangan kita, hari-hari kita, segala yang
terjadi di antara kita pasti sudah berubah. Kamu mungkin sudah melupakanku,
melupakan setiap detail diriku yang pernah kuperlihatkan padamu. Segalanya
pasti sudah berubah, Tuan. Tapi, kenangan tetap sama, meskipun orang-orang yang
mengingatnya tak lagi sama.
Dulu,
kita masih SMA. Sekarang aku dan kamu sudah merasakan bangku kuliah. Dulu, kita
begitu dekat. Sekarang, kita bahkan tak saling kenal. Logiskah jika kamu yang
tak pernah kutemui secara nyata bisa menyita perhatianku hingga sejauh ini?
Tuan,
maafkan aku jika aku masih mengingatmu, masih ingin bercerita tentangmu, dan
masih mengingat yang terjadi sewaktu kita masih bersama. Aku tahu ini semua
salah, tapi menurutku bercerita tentangmu bukanlah hal yang salah.
Sekali
lagi, selamat 2 Januari, Tuan.
Bersemangatlah
di jurusan Hukum Universitas Gajah Mada yang sedang kautekuni.
Tiba-tiba,
aku merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar