Rabu, 18 September 2013
Selasa, 17 September 2013
Beda Cinta, Setipis Keyakinan
Saya
mengingat lagi cerita teman saya. Baru beberapa hari saya temui dia di cafe .
Jujur, pikiran saya masih terbebani oleh cerita yang ia ungkapan. Tentang
hubungannya, tentang kekasihnya, yang jauh dari kata normal. Iya, mereka
berbeda, tidak sama seperti orang lainnya.
Ketika dia
bercerita dengan menggunakan air mata, saya tahu bahwa beban yang ia pikul
sangatlah berat. Air mata yang saya lihat hari Rabu kemarin adalah luapan emosinya
yang sempat tertahan. Saya bisa rasakan sakit yang memukul-mukul perasaannya.
Tapi, dalam duka, masih terselip kebahagiaan yang mampu ia ceritakan pada saya,
walau dengan suara tertatih, walau dalam halaan napas lirih.
Jatuh
cinta adalah dua kata yang sulit dijelaskan. Tidak terdefinisikan. Soal hati,
kata-kata seakan tak ahli untuk memaparkan juga mendeskripsikan. Saya tidak
akan berbicara tentang cinta, juga tentang mimpi omong kosong yang diciptakan
saat hadirnya cinta. Ini semua soal kenyataan, soal dunia yang begitu klise.
Agama.
Air mata
memang sia-sia, karena yang dibutuhkan di sini adalah kedewasaan. Semua
berawal manis dan indah. Teman saya, awalnya memang bercerita dengan senyum
sumringah. Ia berkenalan dengan seorang pria, secara tidak sengaja. Tentu saja,
kita seringkali menganggap banyak hal terjadi karena kebetulan. Kebetulan
mungkin adalah rencana Tuhan yang belum benar-benar kita pahami.
Tatapan
mereka saling beradu, hanya senyum dan tawa yang tercipta kala itu. Teman saya,
wanita beragama Khatolik tersebut, baru selesai pentas band. Lalu, dunia berkonspirasi, mempertemukan dia dengan
seorang pria, yang membuat hatinya merasa nyaman. Pria yang tiba-tiba merangsuk
masuk dalam ingatan dan jengkal napasnya.
Indah
memang, cinta mengubah segala yang hitam putih menjadi warna-warni. Tumpukan
kebahagiaan semakin sempurna, ketika perkenalan teman saya dan pria itu
berlangsung ke tahap yang lebih dalam, lebih dekat.
Segalanya
terasa manis, walaupun juga terasa asing. Rasa nyaman itu kini berangsur
berubah menjadi rasa takut kehilangan. Mereka berusaha untuk saling melindungi
satu sama lain. Mungkin, ketika salib berada dalam genggaman tangan teman saya,
dan ketika tasbih berada dalam genggaman pria itu; dengan air mata, mereka
saling mendoakan.
Saya bisa
rasakan kehangatan mereka. Sangat hangat. Sangat dekat. Saya iri, mengingat
hubungan saya yang lebih dulu kandas termakan perpisahan. Saya dan pria di masa
lalu tersebut tidak sekuat dan setegar teman saya. Oh, jadi curhat. Sungguh,
saya benci membahas masa yang tak ingin saya ingat lagi. Teman saya dan
kekasihnya masih terus mempertahankan walau mereka berbeda. Perbedaan keyakinan
bukan alasan untuk tidak saling jatuh cinta.
Inilah
yang membuat saya semakin terharu, teman saya menunggu kekasihnya salat di
masjid. Ia menunggu dengan sangat sabar meskipun lirikan mata yang tajam
tertuju padanya.
Dalam
perbedaan, mereka saling menguatkan. Keindahan mereka sampai pada kelopak mata
saya. Saya tak tahu harus berkomentar apa. Terharu? Prihatin? Sinis?
Hey,
mereka berbeda dari pasangan yang lainnya. Mereka bukan pasangan bermanja-manja
yang mabuk kepayang akan cinta, saling bergelayut mesra dalam pelukan. Sampah.
Pacaran model cinta monyet. Teman saya dan kekasihnya sungguh berbeda, mereka
punya kebahagiaan yang tak dimengerti banyak orang. Kebahagiaan yang belum
tentu bisa dirasakan oleh banyak orang yang sibuk menghakimi hubungan mereka.
Apa yang
membuat dua orang saling memperjuangkan jika bukan karena cinta?
Kita (mungkin) Belum Benar-Benar Putus
Aku tak
pernah mempedulikanmu! Aku tak pernah mau tahu kabarmu! Aku hanya bertingkah
seolah-olah kaukekasihku, karena masih ada labirin-labirin kosong dihatiku,
yang tak mampu terisi olehmu. Ya, kita bertingkah layaknya pasangan kekasih
yang sangat bahagia, tapi apa yang kurasakan? Genggaman tanganmu, kosong!
Pelukanmu, semu! Tutur katamu, tak penting bagiku! Senyummu, tak mampu membuat
jantungku menderu menggebu! Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan pria-pria
itu! Bermesraan dengan mereka tanpa kautahu apa yang kulakukan dibelakangmu.
Sebenarnya, apa yang salah denganku? Sebenarnya, ini salahku atau salahmu?
Awalnya,
semua berjalan biasa saja, tapi aku mulai risih dengan tingkah bodoh dan
keanehanmu! Aku tak tahan dengan semua hal bodoh yang kauperlihatkan padaku.
Aku tak suka caramu mengatakan cinta dengan hal setolol itu! Kenapa kaselalu
membuatku marah? Kenapa kautak pernah berusaha menumbuhkan cinta dalam hatiku?
Kenapa aku tak bisa mencintaimu walaupun kutahu kautelah berkorban banyak
untukku?
Tapi, Tuhan
memang adil, Tuhan berikanku rasa sakit untuk menyadarkanku dari kesalahanku.
Kata putus yang kulontarkan dengan begitu mudahnya, tanpa tangis tapi penuh
tawa ternyata tak selamanya menjadi tawa bagiku. Selang beberapa hari memang
semua berjalan normal, tapi aku merasa ada mozaik yang hilang dalam hidupku;
kamu yang kutinggalkan dengan sengaja dan dengan kejamnya. Pesan singkatmu,
tawa renyahmu, senyummu, kata-kata cintamu, tak ada ada lagi hal-hal manis yang
dulu kuanggap seperti sampah itu. Tak ada lagi kamu yang mengisi hari-hariku
dengan lelucon bodoh dan tampang tolol itu. Tak ada lagi kamu yang diam-diam
mencium pipiku ketika aku sibuk dengan handphone dan laptopku. Aku
merasa sendirian. Aku benar-benar merasa kehilangan. Kini, aku semakin percaya
bahwa kita baru benar-benar mencintai seseorang ketika kita kehilangan
sosoknya, dan hal itu kini terjadi padaku.
Memang,
setelah berpisah denganmu, aku dengan begitu mudahnya mendapat seseorang lagi
yang berusaha mengisi hari-hariku, tapi dia tak sebodoh kamu, dia tak setolol
kamu, dia tak mampu menggantikan kamu. Dia hanya berhasil mengganti statusku
yang single menjadi in relationship, dia tak benar-benar mampu
menggantikan kamu yang (tanpa kusadari) telah mengisi hatiku. Aku semakin
mengerti bahwa tak ada seorangpun yang mampu menggantikan sosokmu.
Meskipun
kini aku telah bersamanya, dan kaujuga telah menemukan seseorang yang baru,
tapi perasaanku tak berubah sedikitpun. Aku justru sangat mencintaimu ketika
kini kautelah bersamanya. Saat melihat kaudengan dia, ada rasa sakit yang
menikamku dalam-dalam, ada kenangan yang diam-diam mendesakku kembali ke masa
lalu, sambil berkata dalam hati: "Dulu aku pernah menggenggam tanganmu,
tapi sekarang dia yang mampu melakukan itu, kekasih barumu."
Hanya itu
yang bisa kulakukan, MENYESAL! Membiarkanmu mencintaiku tanpa mempedulikan
perasaanmu, membiarkanmu memberi kejutan tanpa pernah memerhatikan usaha
kerasmu, aku sadar bahwa ternyata dulu kamu benar-benar mencintaiku. Cuma itu
yang bisa kulakukan, menangis diam-diam ketika kulihat barang-barang
pemberianmu masih kusimpan dengan rapi. Kita memang telah berpisah, tapi
perasaanku belum bisa lepas darimu. Kita memang telah putus, tapi kenanganku
tentangmu belum benar-benar putus.
Aku takut
kehilangan seseorang yang tak lagi kumiliki... kamu.
Minggu, 15 September 2013
Cinta dua agama
Aku mencintaimu .
Tak memandang apa agamamu,
tak memandang cara berdoa mu.
Tak memandang siapa yang kau
sembah .
Tuhan menyiapkanku kedunia,
untuk bertemu dengan mu,
menjagamu, dan menjadikan mu
indah dihadapan nya.
Walaupun kita berbeda.
Cinta dan hati kita sama .
Ketika kau dan aku berdoa
dengan cara masing masing .
Aku memegang salibku
kau memegang tazbih mu
Aku mencium alkitabku.
Dan kau mencium al qur'an mu.
Sembari kau bersujud,
dan aku berlutut di hadapan
Tuhan kita.
Tanpa memandang topik
perbedaan.
Aku mencintai mu,
kau mencintaiku,
tapi kita sama sama mencintai
Tuhan kita.
Kita sama sama bersyukur dan
menangis.
Dengan yang namanya
pernikahan.
Namun kita tetap saja berbeda,
berbeda untuk saling
mencintai,
tanpa memandang kau dan aku
memiliki Tuhan yang berbeda :)
kau slalu terlihat tampan saat
memakai baju koko mu,
kau slalu menunaikan shalat
mu,
namun aku sama sekali tidak
terganggu,
aktivitasmu slalu mengaji.
Setiap saat kau memujiku,
dengan pelayananku di gereja, dengan
puji-pujian ku .
kau slalu memberikan ku
smangat buat pelayananku,
dan sembari stiap minggu kau
menemaniku di greja.
Aku slalu menunggu mu, setiap
kali kau shalat di masjid.
Kau juga slalu menunggu ku, di
luar gerejaku.
Namun Tuhan kita tetap setia
meskipun kita berbeda.
Ku harap..
bukan karna suatu agama dapat
memisahkan cinta kita
dan bukan karna perbedaan kita tak bisa saling cinta
Karna menurutku apapun agamamu,
saat kau bisa membantu semua orang.
Mreka tak akan tanya apa
agamamu.
Puisi Bersabarlah Mama
Jangan lah menangis Mama ku.
Jangan lah Kau bermuram Slalu.
Walau pun putus sekolahku.
Namun ku tetaplah putrimu .
Ku tahu pedih dihati mu.
Ku tahu beban derita mu.
Tiada yang dapat menolong ku.
Melanjutkan cita cita ku .
Meskipun Papa tiada disisi
kita .
Tak perlu bersedih tak perlu
duka .
Meski derita bertindih datang
melanda.
Bersabarlah Mama, berdoa lah .
Sabar lah mama teduhkan hatimu
.
Hilangkan duka dalam dada Mama
ku.
Sabar lah mama teduhkan hatimu
Derita kan berakhir juga ,
mama ku .
Bukan lah rumah , bukanlah
harta
Hanya doa yang ku minta Mama
Tiada duka sepanjang Masa
Bahagia pasti milik kita Mama
..
Langganan:
Postingan (Atom)