Rabu, 18 September 2013

Renungkan lah!

Pagi hari AKU menunggumu berbicara kepada-KU,
Namun kamu bangun terlambat & cepat-cepat berangkat untuk menyelesaikan tugasmu.
TAK ADA WAKTU !!

Siang hari ketika kamu sibuk di tempat pekerjaanmu,
hingga waktu makanpun kamu tampak cepat-cepat.
Aku menunggumu & berharap kamu memanggil nama-KU.
TAK ADA WAKTU!

Malam hari AKU menunggumu kembali,
berharap supaya kamu berbicara kepada-KU,
Namun kamu cepat-cepat pergi tidur karena pekerjaan & kegiatan sehari-hari telah membuatmu letih lelah.
TAK ADA WAKTU!

Hari Minggu AKU menunggumu di dalam gereja,
Namun kamu tidak datang ke gereja, dimana AKU menunggumu,
Malahan AKU melihat kamu bersama-sama temanmu bercanda ria, kadang kala bermalas-malasan.
TAK ADA WAKTU!

Saat harinya di mana pintu surga terbuka bagi orang-orang kudus,
AKU melihatmu, giliranmu untuk masuk, sampai di pintu,
AKU bertanya,
"Siapa namamu?
AKU mencari-cari namamu sampai pada halaman terakhir dari buku catatan-KU,
namun Aku tak menemukan namamu."

"Kamu tidak bisa masuk!" kata-KU

Kamu pun berkata,
"TUHAN, mengapa aku tidak bisa masuk & mengapa namaku tidak KAU catat di Buku Kehidupan?"

Tapi Kujawab,
"Maaf, pernahkah kau memintaKU untuk menuliskan namamu ?!"

Yesaya 55:6
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui;
Berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Kadang hidup perlu PILIHAN,
kadang hidup perlu RESIKO,
Kadang hidup perlu DUKA,
Kadang hidup perlu SUKA,

Tapi...
TUHAN mendengar lebih dari yg kau KATAKAN,
TUHAN menjawab lebih dari yg kau MINTA,
Tuhan memberi lebih dari yg kau INGINKAN,

Karena...
Di BELAKANG mu ada KEKUATAN YG TAK TERHINGGA,
Di HADAPAN mu ada KEMUNGKINAN TANPA BATAS,
Di SEKITAR mu ada KESEMPATAN yg TIADA AKHIR,
Lebih dari itu, di ATAS mu ada TUHAN yg SELALU MENYERTAI mu !!

Ingatlah...
KASIH TUHAN KEPADAmu SEPERTI LINGKARAN,
TAK BERAWAL & TAK BERAKHIR,
SELALU BERPUTAR & MELUAS,
YG AKAN MENYENTUH SELURUH HIDUPMU!!".

Selasa, 17 September 2013

Beda Cinta, Setipis Keyakinan





Saya mengingat lagi cerita teman saya. Baru beberapa hari saya temui dia di cafe . Jujur, pikiran saya masih terbebani oleh cerita yang ia ungkapan. Tentang hubungannya, tentang kekasihnya, yang jauh dari kata normal. Iya, mereka berbeda, tidak sama seperti orang lainnya.
Ketika dia bercerita dengan menggunakan air mata, saya tahu bahwa beban yang ia pikul sangatlah berat. Air mata yang saya lihat hari Rabu kemarin adalah luapan emosinya yang sempat tertahan. Saya bisa rasakan sakit yang memukul-mukul perasaannya. Tapi, dalam duka, masih terselip kebahagiaan yang mampu ia ceritakan pada saya, walau dengan suara tertatih, walau dalam halaan napas lirih.

Jatuh cinta adalah dua kata yang sulit dijelaskan. Tidak terdefinisikan. Soal hati, kata-kata seakan tak ahli untuk memaparkan juga mendeskripsikan. Saya tidak akan berbicara tentang cinta, juga tentang mimpi omong kosong yang diciptakan saat hadirnya cinta. Ini semua soal kenyataan, soal dunia yang begitu klise. Agama.

Air mata memang sia-sia,  karena yang dibutuhkan di sini adalah kedewasaan. Semua berawal manis dan indah. Teman saya, awalnya memang bercerita dengan senyum sumringah. Ia berkenalan dengan seorang pria, secara tidak sengaja. Tentu saja, kita seringkali menganggap banyak hal terjadi karena kebetulan. Kebetulan mungkin adalah rencana Tuhan yang belum benar-benar kita pahami.

Tatapan mereka saling beradu, hanya senyum dan tawa yang tercipta kala itu. Teman saya, wanita beragama Khatolik tersebut, baru selesai pentas band. Lalu, dunia berkonspirasi, mempertemukan dia dengan seorang pria, yang membuat hatinya merasa nyaman. Pria yang tiba-tiba merangsuk masuk dalam ingatan dan jengkal napasnya.

Indah memang, cinta mengubah segala yang hitam putih menjadi warna-warni. Tumpukan kebahagiaan semakin sempurna, ketika perkenalan teman saya dan pria itu berlangsung ke tahap yang lebih dalam, lebih dekat.

Segalanya terasa manis, walaupun juga terasa asing. Rasa nyaman itu kini berangsur berubah menjadi rasa takut kehilangan. Mereka berusaha untuk saling melindungi satu sama lain. Mungkin, ketika salib berada dalam genggaman tangan teman saya, dan ketika tasbih berada dalam genggaman pria itu; dengan air mata, mereka saling mendoakan.

Saya bisa rasakan kehangatan mereka. Sangat hangat. Sangat dekat. Saya iri, mengingat hubungan saya yang lebih dulu kandas termakan perpisahan. Saya dan pria di masa lalu tersebut tidak sekuat dan setegar teman saya. Oh, jadi curhat. Sungguh, saya benci membahas masa yang tak ingin saya ingat lagi. Teman saya dan kekasihnya masih terus mempertahankan walau mereka berbeda. Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk tidak saling jatuh cinta.

Inilah yang membuat saya semakin terharu, teman saya menunggu kekasihnya salat di masjid. Ia menunggu dengan sangat sabar meskipun lirikan mata yang tajam tertuju padanya.

Dalam perbedaan, mereka saling menguatkan. Keindahan mereka sampai pada kelopak mata saya. Saya tak tahu harus berkomentar apa. Terharu? Prihatin? Sinis?

Hey, mereka berbeda dari pasangan yang lainnya. Mereka bukan pasangan bermanja-manja yang mabuk kepayang akan cinta, saling bergelayut mesra dalam pelukan. Sampah. Pacaran model cinta monyet. Teman saya dan kekasihnya sungguh berbeda, mereka punya kebahagiaan yang tak dimengerti banyak orang. Kebahagiaan yang belum tentu bisa dirasakan oleh banyak orang yang sibuk menghakimi hubungan mereka.

Apa yang membuat dua orang saling memperjuangkan jika bukan karena cinta?

Kita (mungkin) Belum Benar-Benar Putus





Mungkin, dulu aku tak benar-benar mencintaimu, ketika jantungmu berdetak lebih cepat saat bertemu denganku, aku tak merasakan jantungku berdetak dengan hebat ketika bersamamu. Perkenalan kita begitu singkat, pertemuan kita cukup beberapa saat, lalu kaukatakan cinta, lalu ka tunjukkan rasa, lalu kaubahagia dengan cinta "instan" yang kita lalui berdua. Ya, aku bahagia, tapi tidak benar-benar bahagia, karena (mungkin) aku tak merasakan perasaan yang sama denganmu, karena (mungkin) aku asal menjawab saja ketika ka memintaku menjadi saru-satunya dalam hidupmu.

Aku tak pernah mempedulikanmu! Aku tak pernah mau tahu kabarmu! Aku hanya bertingkah seolah-olah kaukekasihku, karena masih ada labirin-labirin kosong dihatiku, yang tak mampu terisi olehmu. Ya, kita bertingkah layaknya pasangan kekasih yang sangat bahagia, tapi apa yang kurasakan? Genggaman tanganmu, kosong! Pelukanmu, semu! Tutur katamu, tak penting bagiku! Senyummu, tak mampu membuat jantungku menderu menggebu! Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan pria-pria itu! Bermesraan dengan mereka tanpa kautahu apa yang kulakukan dibelakangmu. Sebenarnya, apa yang salah denganku? Sebenarnya, ini salahku atau salahmu?

Awalnya, semua berjalan biasa saja, tapi aku mulai risih dengan tingkah bodoh dan keanehanmu! Aku tak tahan dengan semua hal bodoh yang kauperlihatkan padaku. Aku tak suka caramu mengatakan cinta dengan hal setolol itu! Kenapa kaselalu membuatku marah? Kenapa kautak pernah berusaha menumbuhkan cinta dalam hatiku? Kenapa aku tak bisa mencintaimu walaupun kutahu kautelah berkorban banyak untukku?

Tapi, Tuhan memang adil, Tuhan berikanku rasa sakit untuk menyadarkanku dari kesalahanku. Kata putus yang kulontarkan dengan begitu mudahnya, tanpa tangis tapi penuh tawa ternyata tak selamanya menjadi tawa bagiku. Selang beberapa hari memang semua berjalan normal, tapi aku merasa ada mozaik yang hilang dalam hidupku; kamu yang kutinggalkan dengan sengaja dan dengan kejamnya. Pesan singkatmu, tawa renyahmu, senyummu, kata-kata cintamu, tak ada ada lagi hal-hal manis yang dulu kuanggap seperti sampah itu. Tak ada lagi kamu yang mengisi hari-hariku dengan lelucon bodoh dan tampang tolol itu. Tak ada lagi kamu yang diam-diam mencium pipiku ketika aku sibuk dengan handphone dan laptopku. Aku merasa sendirian. Aku benar-benar merasa kehilangan. Kini, aku semakin percaya bahwa kita baru benar-benar mencintai seseorang ketika kita kehilangan sosoknya, dan hal itu kini terjadi padaku.

Memang, setelah berpisah denganmu, aku dengan begitu mudahnya mendapat seseorang lagi yang berusaha mengisi hari-hariku, tapi dia tak sebodoh kamu, dia tak setolol kamu, dia tak mampu menggantikan kamu. Dia hanya berhasil mengganti statusku yang single menjadi in relationship, dia tak benar-benar mampu menggantikan kamu yang (tanpa kusadari) telah mengisi hatiku. Aku semakin mengerti bahwa tak ada seorangpun yang mampu menggantikan sosokmu.

Meskipun kini aku telah bersamanya, dan kaujuga telah menemukan seseorang yang baru, tapi perasaanku tak berubah sedikitpun. Aku justru sangat mencintaimu ketika kini kautelah bersamanya. Saat melihat kaudengan dia, ada rasa sakit yang menikamku dalam-dalam, ada kenangan yang diam-diam mendesakku kembali ke masa lalu, sambil berkata dalam hati: "Dulu aku pernah menggenggam tanganmu, tapi sekarang dia yang mampu melakukan itu, kekasih barumu."

Hanya itu yang bisa kulakukan, MENYESAL! Membiarkanmu mencintaiku tanpa mempedulikan perasaanmu, membiarkanmu memberi kejutan tanpa pernah memerhatikan usaha kerasmu, aku sadar bahwa ternyata dulu kamu benar-benar mencintaiku. Cuma itu yang bisa kulakukan, menangis diam-diam ketika kulihat barang-barang pemberianmu masih kusimpan dengan rapi. Kita memang telah berpisah, tapi perasaanku belum bisa lepas darimu. Kita memang telah putus, tapi kenanganku tentangmu belum benar-benar putus.

Aku takut kehilangan seseorang yang tak lagi kumiliki... kamu.

Minggu, 15 September 2013

Cinta dua agama




Aku mencintaimu .
Tak memandang apa agamamu,
tak memandang cara berdoa mu.
Tak memandang siapa yang kau sembah .

Tuhan menyiapkanku kedunia,
untuk bertemu dengan mu,
menjagamu, dan menjadikan mu indah dihadapan nya.

Walaupun kita berbeda.
Cinta dan hati kita sama .
Ketika kau dan aku berdoa dengan cara masing masing .

Aku memegang salibku
kau memegang tazbih mu
Aku mencium alkitabku.
Dan kau mencium al qur'an mu.

Sembari kau bersujud,
dan aku berlutut di hadapan Tuhan kita.
Tanpa memandang topik perbedaan.

Aku mencintai mu,
kau mencintaiku,
tapi kita sama sama mencintai Tuhan kita.
Kita sama sama bersyukur dan menangis.

Dengan yang namanya pernikahan.
Namun kita tetap saja berbeda,
berbeda untuk saling mencintai,
tanpa memandang kau dan aku memiliki Tuhan yang berbeda :)

kau slalu terlihat tampan saat memakai baju koko mu,
kau slalu menunaikan shalat mu,
namun aku sama sekali tidak terganggu,
aktivitasmu slalu mengaji.

Setiap saat kau memujiku,
dengan pelayananku di gereja, dengan puji-pujian ku .
kau slalu memberikan ku smangat buat pelayananku,
dan sembari stiap minggu kau menemaniku di greja.

Aku slalu menunggu mu, setiap kali kau shalat di masjid.
Kau juga slalu menunggu ku, di luar gerejaku.
Namun Tuhan kita tetap setia meskipun kita berbeda.

Ku harap..
bukan karna suatu agama dapat memisahkan cinta kita
dan bukan karna perbedaan kita tak bisa saling cinta
Karna menurutku apapun agamamu,
 saat kau bisa membantu semua orang.
Mreka tak akan tanya apa agamamu.

Puisi Bersabarlah Mama



Jangan lah menangis Mama ku.
Jangan lah Kau bermuram Slalu.
Walau pun putus sekolahku.
Namun ku tetaplah putrimu .

Ku tahu pedih dihati mu.
Ku tahu beban derita mu.
Tiada yang dapat menolong ku.
Melanjutkan cita cita ku .

Meskipun Papa tiada disisi kita .
Tak perlu bersedih tak perlu duka .
Meski derita bertindih datang melanda.
Bersabarlah Mama, berdoa lah .

Sabar lah mama teduhkan hatimu .
Hilangkan duka dalam dada Mama ku.
Sabar lah mama teduhkan hatimu
Derita kan berakhir juga , mama ku .

Bukan lah rumah , bukanlah harta
Hanya doa yang ku minta Mama
Tiada duka sepanjang Masa
Bahagia pasti milik kita Mama ..