Dua puluh tahun yang lalu saya
melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak
bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Rico. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang.
Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau
pelayan.
Namun Samuel mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di
tahun kedua setelah Rico dilahirkan
saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam.
Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian
anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya
dengan Rico. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya,
namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam
selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Samuel meninggal dunia. Rico sudah
berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang
yang semakin menumpuk.
Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup.
Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Rico yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.
Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali
dengan Bryan, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan
kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Bryan, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati,
berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Rico dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam. Malam di
mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak
pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata,
"Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
cekali pada Mommy!"
Setelah berkata demikian ia
mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya
mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Lico, Tante."
"Rico? Rico... Ya Tuhan! Kau benar-benar Rico?"
Saya langsung tersentak dan
bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri
saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu
seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya,
saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang
akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Rio melintas kembali di pikiran saya. Ya Rico, Mommy akan menjemputmu Rico...
Sore itu saya memarkir mobil
biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya
dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Oh, Bryan, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya
lakukan dulu." tTpi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak...
Ternyata Tuhan sungguh baik
kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian.
Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari
belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa
bulan lamanya dan Rico..Rico...
Saya meninggalkan Rico di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri
gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali...
Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan
kegelapan dalam ruangan kecil itu..
Namun saya tidak menemukan
siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai
tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai
berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut
yang dulu dikenakan Rico
sehari-harinya...
Beberapa saat kemudian, dengan
perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu.... Air mata
saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya
dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya
melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat
itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia
tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?!
Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, saya
pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Rico yang dulu tinggal di sini?"
Ia menjawab, "Kalau kamu
ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak
kamu meninggalkannya disini, Rico terus
menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya
terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya
orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung
sampah, namun saya tidak akan
meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan
secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya
untuk menulis ini untukmu..."
Saya pun membaca tulisan di
kertas itu...
"Mommy, mengapa Mommy
tidak pernah kembali lagi....? Mommy marah sama Rico, ya? Mom, biarlah Rico yang pergi
saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Rico. Bye, Mom...."
Saya menjerit histeris membaca
surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya
berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu!
Tolong katakan..!!"
Bryan memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah
terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Rico telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat
kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang
gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang,
Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam
sana... Ia hanya berharap
dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan
kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”
Saya kemudian pingsan dan
tidak ingat apa-apa lagi.
#Maaf jika ada kesamaan dalam cerita , saya cuman ingin berbagi cerita :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar